pacarku brengsek

selain dapat ilmu dan skill tentang kedokteran, dalam masa koas ini, kita juga dapat belajar banyak tentang kehidupan dari apa yang terjadi atau apa yang dialami oleh pasien. hal ini bisa kita dapat tidak hanya di poli atau bangsal, tapi juga IGD.

IGD itu merupakan bagian yang super sibuk. hampir setiap jam, selalu ada pasien berdatangan, dari penyakit yang ringan sampai yang berat. oleh karena itu, koas yang jaga IGD pun siap-siap pegel kakinya ngurusin pasien yang berdatangan seperti kocoran air. tidak hanya pegel, koas yang jaga IGD pun dituntut untuk bisa tahan dalam kondisi tidak tidur alias begadang. dalam hati, beberapa koas baca doa sampai dengan ajian ajib supaya pasien ga dateng, biar mereka dapat mencuri waktu tidur disaat malam sudah mulai larut. hal serupa pun saya alami sewaktu lagi jaga IGD. hari itu, IGD sangat amat rame, saking ramenya, persis kayak pasar ikan. pasien pertama dateng dengan luka bacok di kaki, kepala, dan wajah. eh, pasien berikutnya datang dengan luka bacok di kepala disertai dengan depresi tulang, pasien berikutnya dateng dengan luka tusuk di perut, dateng lagi pasien berikutnya dengan luka tusuk, bacok, tusuk, bacok. saya jadi bingung kok bisa pasien-pasien ini datang dengan keluhan serupa di IGD, kayak janjian aja. oke, hari itu, temanya adalah BACOK dan TUSUK.

penanganan luka bacok dan tusuk pun dilakukan, mulai dari ABC sampai dengan menjahit dan menutup lukanya. untuk luka di muka, jahitannya pun harus super hati-hati agar hasilnya bagus, so waktu yang diperlukan pun semakin lama. malam itu, semua pasien sudah ditangani, dan para koas--termasuk saya-- bersiap-siap untuk memejamkan matanya sebelum sirine ambulan terdengar dari kejauhan. saya pun menutup mata sambil berharap bisa cepet tidur. belum sampai 10 menit saya memejamkan mata, lengkingan sirine ambulan sudah terdengar layaknya omelan ibu-ibu sama anaknya yang nakal, bising. dan seketika itu juga, mata saya terbelalak kembali.

tepat jam 2 malam, datanglah seorang cewek berusia sekitar 20 tahun dengan beberapa luka tusuk di tangan dan pahanya. saya kebetulan dapat jatah menangani pasien ini. setelah menghentikan perdarahan dan melakukan ABC, saya pun mulai bertanya sama pasien ini, "mbak, kok bisa kayak gini? gimana ceritanya?"

"iya, saya dihadang sama 5 orang, kayaknya mereka mau merampok, terus saya ditusuk-tusuk pake pisau", tutur pasien itu. 

"ditusuknya dimana mbak? di rumah ya?", kata saya. lalu dijawab oleh mbak itu, "bukan, di jalan"

"loh, kok di jalan? ini kan sudah malem mbak?" tanya saya penasaran. lalu dijawab lagi oleh pasien itu, "iya, saya tadi ikut pacar saya jalan-jalan di daerah tanjung siapi-api, tapi pacar saya ga kenapa-napa". hmm, wah, ini mbak, pacaran kok tengah malem sih, nanti nenek marah loh. (nah loh?)

"terus, pacar mbak dimana? kok mbak sendirian disini?", tanya saya lagi. si mbak gantian jawab,"pacar saya, umm, kayaknya diluar mbak", kata mbak itu dengan agak ragu kepada saya. tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki menghampiri bed wanita itu.

"mas siapanya mbak ini?", tanya saya nge-tes.

"saya temennya mbak", kata si cowok ini.

"bener temen?", kata saya nge-tes lagi.

"iya mbak", kata dia sambil mengangguk.

tak lama kemudian, datanglah kakak residen buat ngeliat keadaan mbak ini. "kamu siapanya mbak ini? suaminya?", tanya kakak residen ke mas-mas itu

"iya pak", sahut mas-mas itu

"loh, tadi katanya temen, sekarang suami, sebenernya mas itu siapanya mbak ini ya?", tanya ku dengan tampang bete

"umm, cuma temen kok", katanya malu-malu

"wah mas ini, kata mbaknya mas ini pacarnya loh, kalo mas ngomong cuma temen gitu nanti mbaknya sedih loh", ledek saya

"hehe, iya mbak, saya pacarnya", akhirnya si mas ngaku juga. "mbak, ini mahal ga biayanya?", sambung si mas itu lagi

"kalau ada askin atau jamsoskes bisa gratis loh, tapi kalau ga ada bisa daftar umum aja, masalah biaya, langsung tanya ke administrasi aja ya mas", jelasku

kemudian saya dan kakak residen ini pun mulai menjahit luka si mbak. di tengah-tengah proses menjahit, kami butuh benang yang kebetulan persediaan secara cuma-cumanya lagi habis di rumah sakit, so butuh keluarga si mbak ini untuk beli di depo.

"mbak, pacar mbak tadi dimana? kita lagi butuh dia untuk beli benang jahitnya", tanya saya kepada mbak itu, soalnya saya tidak melihat pacar mbak itu setelah percakapan terakhir tentang masalah administrasi rumah sakit tadi.

"saya ga tau mbak, kayaknya di depan deh, hp saya juga dibawa pacar saya", kata mbak itu.

"yaudah, saya coba panggil di depan ya pacarnya, nama pacarnya siapa?", tanyaku lagi.

"oca mbak", sahut si pasien

dengan langkah lemas karena ngantuk, saya pun menuju keluar pintu emergensi tempat keluarga pasien sering nunggu. saya pun berteriak, "keluarga ibu siti... keluarga ibu siti....", satu kali dua kali tiga kali saya panggil, ga ada yang nyahut. akhirnya dengan tampang bete saya teriak, "oca, pacarnya siti... oca, pacarnya sitiii", dengan nada kayak penyiar radio. sumpah ya, saat itu, saya geli sendiri denger diri saya bilang "oca pacarnya siti", tapi kegelian saya berhenti karena semua orang diam seribu bahasa yang menandakan si -oca-pacarnya-siti itu ga ada di daerah sekitar emergensi ini. saya pun kembali ke IGD dengan tampang yang lebih bete lagi.

"mbak, pacar mbak dimana sih? masa saya panggil panggil ga ada. waduh, jangan-jangan pacar mbak sudah pergi nih mbak!", saya mulai nakut-nakutin si mbak siti ini. mbak siti ini cuma diam aja denger saya bilang gitu. well, saya jadi merasa bersalah.

akhirnya kami pun jahit dengan benang seadanya karena keluarga mbak siti ini ga ada. si imah yang tadinya sempet tidur nyamperin si mbak ini yang matanya mulai basah karena menyadari bahwa dia udah ditinggal sendirian sama pacarnya disaat dia lagi bener-bener butuh si pacarnya itu. dengan gaya bicaranya yang khas, imah pun mulai menyapa mbak ini, "hmm, tuh kan mbak, kemana pacarnya mbak? dia tuh udah pergi...."

sambil sesenggukan, mbak itu bilang, "hiks hiks, mbak, aku boleh pinjem hape mbak ga buat nelpon pacar aku?" pinta si mbak itu. si imah menolak dan akhirnya meninggalkan mbak itu. hmm, beragam pertanyaan berkecamuk dalam hati saya, kok mbak itu mau nelpon pacarnya yak, kenapa ga ortu nya aja atau keluarganya yang lain, kok dia masih mau nelpon pacarnya setelah apa yang dilakukan pacarnya sama dia, kok dia percaya banget sama pacarnya, kok kok kok. ah, tapi sudahlah, buru-buru saya hapus pertanyaan itu dan konsen ke lukanya mbak ini.

setelah selesai menjahit yang hampir makan waktu 2 jam itu (karena lukanya banyak dan bingung cari tendonnya yang juga robek gara-gara luka tusuk), saya pun beres-beres. mbak tadi istirahat di bed nya, untung aja ada sarung yang nutupin pahanya si mbak akibat luka tusuk tadi, soalnya celana, tas, dan barang-barang mbak itu dibawa pacarnya semua dan mbak itu ditinggalkan tanpa suatu apapun. saat itu menunjukkan sudah pukul 6 pagi yang artinya sudah waktunya shift dari yang jaga malam dengan yang jaga pagi. huaaaahhh akhirnya, selesai juga tugasku di emergensi. sembari meninggalkan emergensi, mata saya kembali melayang ke mbak yang sudah tertidur pulas itu. saya kasihan dengan mbak itu, saya mau minjemin hape saya biar dia bisa menghubungi seseorang, tapi saya takut dia tetep kekeuh menghubungi pacaranya yang brengsek itu dan ntar malah nomor saya dimainin saya pacarnya itu. ah, biarlah dia minjem hape pasien yang lain ajalah. dan saya pun berjalan dengan mata yang hampir terpejam, ngantuk!

5 comments:



rabest said...

tega bener cowoknya..ckckck

Andri said...

kali be cowoknyo lagi boker di wc, dak boleh su'udzon sih

desi oktariana said...

masa' boker dari malem sampe ketemu pagi kak... -________-

M. Dian Kafrowi Rahim said...

Baru pacaran udah kayak gitu...
Salam.

Wahyu Alfiansyah said...

Jenis post yg suka saya baca,
sesuai dengan realita,
jelas, jenaka dan bermakna sesuai judulnya ^^

Post a Comment