Mencintai karena Allah?

mungkin kita seringkali mendengar ungkapan "mencintai karena Allah" bila seseorang hendak menikah atau sudah menikah atau baru mau memilih pasangan. seorang sahabat pernah berkata kepada saya bahwa bila dia hendak menikah, dia menginginkan pasangan yang mencintainya karena Allah dan dia pun mencintainya karena Allah. secara teoritis, ya mungkin dapat kita terjemahkan bahwa mencintai seseorang karena Allah -dalam konteks memilih pasangan- itu berarti mencintai seseorang yang dapat mengajak kita ke jalan Allah agar setiap jalan yang ditempuh selalu berada dalam ridho-Nya. ya tapi itu cuma teori. dalam kehidupan nyata, susah sekali menemukan yang seperti itu. kebanyakan orang terlebih dahulu melihat "apa yang ada" pada diri si calon (kecantikan, pendidikan, keturunan, harta, dll) ketimbang melihat agama si calon dan menerima "apa adanya" kondisi si calon tersebut. 
saya sendiri masih sulit menemukan definisi dari "mencintai karena Allah", hingga suatu hari saya menemukan contoh real dari "mencintai karena Allah". begini kisahnya:
saya memiliki seorang sahabat yang berasal dari India, saya mengenalnya setelah ia tinggal di Indonesia bersama istrinya yang merupakan kakak tingkat saya. mari kita flashback sewaktu dia masih tinggal di India dan belum menikah. dia adalah seorang dokter yang telah bekerja di India, keluarganya tergolong keluarga kelas menengah ke atas, serba berkecukupan, dan penampilannya pun menarik. sebelumnya, dia beragama hindu dan seluruh keluarganya beragama hindu. Allah memberi hidayah kepadanya hingga akhirnya dia masuk Islam. dia pun mulai bersahabat dengan orang-orang Islam, tapi keluarganya tidak tahu kalau dia sudah masuk Islam. untuk mempertahankan keislamannya dan memperdalam ilmu agamanya, ustadznya menyarankan agar ia menikahi seorang wanita islam dari negara lain yang memiliki lingkungan Islam, jauh dari keluarga dan lingkungannya di India yang tidak Islam. dia pun menyetujui dan menyerahkan sepenuhnya perihal wanita tersebut kepada sang ustadz. akhirnya dia pun menikahi sang akhwat yang merupakan kakak tingkat saya. dia belum pernah melihat akhwat tersebut, dia belum pernah ke Indonesia, tidak punya keluarga atau kenalan seorang pun di Indonesia, dan dia tidak tau apapun tentang si akhwat tersebut, yang dia tahu, akhwat tersebut memiliki agama yang bagus.
di Indonesia, dia memulai semuanya dari nol, dia tidak bisa bekerja sebagai seorang dokter di Indonesia karena dia tamatan India, kecuali dia mengambil program spesialis. dia juga tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak punya seorangpun yang dikenal, menjalani hidup yang sederhana, jauh dari kehidupannya di India.  
menikahi akhwat yang belum pernah dikenal, pindah ke lingkungan yang sangat asing tanpa seorangpun yang dikenal, dan hidup dalam kondisi yang sangat sederhana merupakan hal yang sangat "beresiko" menurut saya, tapi dia rela melakukan hal tersebut demi menyelamatkan agamanya, demi mendapat ridho dan ampunan dari Allah.
jelas sekali dalam ingatan saya, sewaktu saya mengunjunginya dan istrinya di kost-an istrinya, dia berkata, "sister, I marry her just because of Allah, because Allah, inshaAllah". perkataannya sangat menyentuh hati saya, baru kali ini saya melihat seseorang yang benar-benar menikah dengan landasan "mencintai karena Allah". saya sangat terharu dan pada akhirnya saya dapat menemukan apa itu yang dimaksud dengan "mencintai karena Allah" dalam kehidupan nyata, yang contohnya dapat saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.
in the end of the story, saya hanya bisa berdoa semoga Allah selalu melindunginya, menjadikannya seorang pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, menaungi rumah tangganya dalam rahmat-Nya sehingga menjadi keluarga yang senantiasa sakinah, mawaddah, dan warohmah. aamiin.

2 comments:



edi ahsani said...

saya mendapatkan pelajaran yang berharga dari cerita

Ria Hidayah said...

SUBHANALLAH... Terharuu...

Post a Comment